ChatGPT sering dibilang bisa bikin coding jadi lebih cepat.
Tapi jujur saja, tidak semua prompt itu membantu.
Bahkan, beberapa prompt yang sering dipakai justru bikin code makin panjang, susah dibaca, dan jauh dari kebutuhan awal.
Aku sendiri pernah ngalamin hal ini, dan baru sadar kalau masalahnya bukan di AI-nya, tapi cara kita minta tolongnya.
1. Prompt Terlalu Umum
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah menggunakan prompt yang terlalu umum.
Contoh prompt:
“Buatkan saya code login system”
Masalahnya, ChatGPT akan menebak sendiri konteks project yang kita maksud.
Akibatnya, ChatGPT bisa tiba-tiba menggunakan:
- framework yang sebenarnya tidak kita pakai,
- struktur folder yang terasa asing,
- atau fitur berlebihan seperti JWT, middleware, dan role system.
Akibat akhirnya, code menjadi panjang, ribet, dan sulit dipahami.
Padahal, kita sebenarnya hanya ingin membuat login sederhana.
Pelajaran:
Prompt yang terlalu umum sering menghasilkan output yang spekulatif.
2. Minta “Code Lengkap” Tanpa Batasan
Kesalahan berikutnya adalah langsung meminta seluruh code dalam satu prompt.
Contoh prompt:
“Buatkan code CRUD lengkap”
Biasanya, hasil yang didapat adalah:
- satu file code yang sangat panjang,
- banyak function yang tidak terpakai,
- penamaan variabel yang tidak konsisten,
- dan code yang sulit di-debug ketika terjadi error.
Akibatnya, saat muncul error, kita sendiri bingung memahami alur logic-nya.
Pelajaran:
Lebih baik meminta code per bagian, bukan langsung semuanya sekaligus.
3. Langsung Copy-Paste Tanpa Paham
Kesalahan ini adalah yang paling sering terjadi, terutama bagi pemula.
Contoh prompt:
“Perbaiki error ini”
(lalu langsung menyalin seluruh code yang diberikan)
Memang, dalam beberapa kasus code tersebut bisa langsung berjalan.
Namun, kita tidak benar-benar memahami kenapa code itu bisa bekerja.
Akibatnya, ketika error serupa muncul lagi, kita akan bingung dan tidak tahu harus mulai dari mana.
Pada akhirnya, kita menjadi:
bergantung pada ChatGPT, bukan belajar dari error itu sendiri.
4. Prompt Tanpa Menyebut Konteks Project
Prompt seperti ini juga sering menimbulkan masalah:
“Kenapa code ini error?”
Tanpa menyebutkan:
- bahasa pemrograman yang digunakan,
- framework yang dipakai,
- versi framework,
- serta tujuan dari code tersebut.
Akibatnya, ChatGPT akan:
- membuat asumsi sendiri,
- menebak solusi,
- dan terkadang memberikan jawaban yang tidak relevan.
Pelajaran:
AI bukan cenayang. Tanpa konteks yang jelas, hasilnya pun tidak akan maksimal.
5. Cara Prompt yang Lebih Sehat (Versi Aku)
Daripada menulis prompt seperti ini:
“Buatkan code CRUD”
Lebih baik menulis prompt yang lebih jelas, misalnya:
“Aku pakai Laravel 10. Aku mau bikin CRUD sederhana tanpa login. Tolong jelaskan langkah per langkah, jangan langsung kasih semua code.”
Hasilnya:
- code lebih rapi,
- penjelasan lebih mudah dipahami,
- dan code lebih gampang dimodifikasi sesuai kebutuhan project.